InYourDream dan Xepher Akan Join dengan Tim Luar Negeri

Kabar yang dapat dibilang paling mengejutkan memang datang dari laman Instagram Rex Regum Qeon, yang adalahsalah satu kesebelasan e-Sports terbesar di Indonesia, mereka memberitakan bahwa mereka sudah melepas Kenny Deo alias Xepher yang adalahKapten kesebelasan DOTA 2 mereka kini setelah 3 tahun bareng mereka. Hal ini lumayan aneh, menilik seberapa besar dan berdampaknya Xepher sebagai kapten untuk RRQ dalam sejumlah waktu kebelakang.

Sehingga menyebabkan tidak sedikit spekulasi yang beredar mengenai apa rencana dari Xepher kedepannya. Ditambah kesebelasan underdog dalam penyisihan slot Jakarta Minor kemarin, Alter.Ego sudah mengabarkan bahwa mereka sudah mempunyai roster baru yang siap guna diluncurkan dalam sejumlah waktu dekat. Pastinya tidak sedikit orang pun berfikir bahwa Xepher bakal berlabuh kesana.

Namun melewati akun Instagram sang master dengan nama asli Vinzent Indra a.k.a Oddie, kita dapat mengintip dengan cukup jelas dua dedengkot yaitu InYourDream dan Xepher tampak di bandara Soekarno Hatta menyeluruh membawa Koper dan nampaknya siap untuk mengerjakan perjalanan ke luar negeri. Begitu pun dengan akun Instagram dari teman selevelnya dengan nama asli Franzeska Edelyn a.k.a Xepher, disitu terlihat dia dan InYourDream yang sepertinya sedang bersiap-siap untuk berangkat.

Hal ini tentunya membuat tidak sedikit para penggila dota2 di Indonesia berfikir terhadap isu yang sedang berkembang dimana mereka bakal bermain kedalam kesebelasan di luar Indonesia. Bukan tidak mungkin dengan level kualitas permainan mereka sekarang ini, sungguh lumrah apabila tipe permainan mereka begitu digemari oleh sejumlah tim Internasional di luar Asia Tenggara. InYourDream yang mempunyai MMR nomor 1 di dunia, dan kualitas permainan Xepher yang tak butuh dipertanyakan lagi sekitar menjadi kapten dari Rex Regum Qeon sejumlah waktu kebelakang ini.

Sulit guna memperkirakan kesebelasan manakah yang akan menjadi tempat berlabuhnya kedua pemain kebanggaan Indonesia ini. Namun bila diacuhkan lebih lanjut, kesebelasan yang sangat memungkinkan merupakan Clutch Gamers, dimana mereka sedang dalam fase membenahi dengan melakukan tidak sedikit sekali evolusi roster selama sejumlah waktu kebelakang. Apalagi Afromoush yang ditinggal teman senegaranya sendiri yaitu Mage- nampaknya pun tidak bakal bertahan lama lagi di Clutch Gamers. Sehingga Xepher akan dapat menjadi pengganti yang tepat untuk slot yang kosong itu.

Ditambah dengan InYourDream pun akan bisa menjadi pengisi yang tepat untuk Clutch Gamers juga, dengan keluarnya Mage- yang menciptakan posisi Mid Laner dari Clutch Gamers kosong yang kini dengan sedangkan digantikan oleh vtFaded. InYourDream yang memang sekitar ini bermain di posisi Mid Lane tentunya dapat dengan mudah memenuhi posisi tersebut.

Beberapa pilihan lain merupakan Geek Fam yang baru saja merekrut Feuru sejumlah waktu kemudian yang mungkin dapat juga menjadi pelabuhan mereka selanjutnya, urusan ini wajar menilik Feuru barangkali saja merekomendasikan kedua nama tersebut. Fnatic menjadi pilihan yang tidak cukup memungkinkan dimana mereka sedang dalam pengejaran mengarah ke top-8 dari DOTA 2 Pro Circuit musim ini.

Sampai sekarang pun belum terdapat kabar yang jelas tentang tim manakah yang bakal menjadi lokasi tinggal baru untuk mereka berdua. Siapa tau pun mungkin bakal ada kesebelasan baru yang siap memeriahkan persaingan di regional Asia Tenggara. Namun yang tentu pilihan mereka berdua mestilah anda dukung bersama-sama ya dan tidak boleh lupa pun buat tidak jarang kali dukung pertumbuhan e-Sports di Indonesia!

Start reading InYourDream dan Xepher Akan Join dengan Tim Luar Negeri

Ini Dia 5 Reporter eSports Paling Cantik yang akan Membuat Anda Meleleh

Di balik perhelatan eSports yang biasanya didominasi oleh kaum lelaki, ada banyak reporter cantik yang siap melaporkan jalannya pertandingan pada pemirsa di layar kaca. Selain cantik dan muda, wanita-wanita ini juga memiliki bakat dan prestasi yang akan membuat Anda terkagum-kagum. Alhasil, pesona dan talenta reporter-reporter cantik tersebut membuat pelaksanaan eSport semakin berwarna.

Siapa sajakah wanita-wanita itu? Mungkin penggemar eSports Indonesia sudah tidak asing dengan beberapa di antaranya:

1. Sjokz

Sjokz
Sumber: redbull.com

Dialah Eefje “Sjokz” Depoorte, seorang wanita cantik kelahiran 16 Juni 1987. Wanita ini sudah tidak asing lagi bagi para atlet eSport, terutama bagi pemain League of Legends. Terang saja, Sjokz merupakan seorang reporter tetap pada event European League of Legends Championship Series (LCS EU). Kepiawaiannya dalam mereportasekan keadaan di arena dan parasnya yang menawan, membuat kemunculannya selalu ditunggu-tunggu oleh para penonton.

Selain andal sebagai reporter dengan gelar master di bidang jurnalistik dan sejarah, ternyata ia juga pernah bermain Unreal Tournament dengan sangat kompetitif. Tidak hanya aktif sebagai reporter, Sjokz juga seorang dosen di Ghent University.

2. Sheever

Sheever
Sumber: gawker-media.com

Jorien “Sheever” van der Heidjen mungkin sangat tidak asing bagi para pencinta Dota 2. Intensitas penampilannya di setiap event game besutan Valve Corporation ini, membuatnya dijuluki Ratu Dota 2.

Wanita kelahiran Belanda, 26 April 1985 tersebut memulai kariernya sebagai streamer di salah satu channel esports. Memulai dari sana, bakatnya makin terasah dan menjadikannya semakin populer di kalangan penggemar Dota 2.

3. Tonya

Tonya
Sumber: cybbet-static

Para penggemar eSports indonesia, kali ini kita akan berkenalan dengan seorang wanita cantik berkebangsaan Ukraina, “Tonya” Predko. Cukup banyak deretan event yang pernah menggaetnya sebagai host. Beberapa di antaranya adalah Esports Championship Series Season 2 dan 4, ELEAGUE Major: Boston 2018, ESG Tour Mykonos 2017, dan masih banyak lagi. Sebelum tampil sebagai host, Tonya aktif dalam scene Counter Strike: Global Offensive saat ia bergabung bersama StarLadder.

4. Pansy

Pansy
Sumber: outermode.com

Berikutnya, ada si cantik Laurent “Pansy” Scoot, seorang reporter berbakat dari game CS:GO. Sebelum menjadi reporter sekaligus caster kondang, ia memulai kariernya sebagai salah satu pro player di game Call of Duty 4.

Kariernya mulai diakui dunia setelah bergabung dengan ESL yang merupakan salah satu event organizer eSports besar di Eropa. Wanita kelahiran Inggris—26 Juli 1990 ini pun mulai aktif sebagai reporter, caster, dan host di berbagai event. Hingga kini, ia sudah menjadi salah satu reporter cantik yang tidak diragukan lagi kemampuannya.

5. Seltzerplease

Seltzer
Sumber: twitter.com

Di antara yang lainnya, mungkin wanita cantik satu ini paling jarang didengar namanya di kalangan penggemar eSports Indonesia. Dia adalah Rachel “SeltzerPlease” Quirico, wanita yang memulai kariernya sebagai gamer ketika memainkan Pokemon. Sejak saat itu, ia mulai aktif mengikuti berbagai turnamen Pokemon. Seiring dengan berjalannya waktu dan perkenalannya dengan berbagai game, kariernya mulai menanjak.

Setelah bergabung dengan Cyber Sports Networking, SeltzerPlease semakin menunjukkan kemampuannya. Ia memiliki banyak kesempatan untuk tampil menjadi talent di berbagai turnamen besar. Saat ini, SeltzerPlease masih aktif sebagai host dan analis pada Overwatch League.

Selain kelima wanita cantik yang sudah dibahas,  masih banyak wanita cantik lainnya yang menghiasi eSports, baik sebagai reporter maupun pemain. Bagaimana, sobat eSports Indonesia? Siapa di antara mereka yang menurut Anda paling cantik dan membuat Anda meleleh?

Start reading Ini Dia 5 Reporter eSports Paling Cantik yang akan Membuat Anda Meleleh

Games CS GO: Kandidat eSports di Asian Games 2018

Bagi yang belum tahu, eSports adalah kompetisi permainan video yang mempertemukan para gamers profesional. Permainan ini banyak jenisnya, di antaranya adalah League of Legends, Dota 2, Counter Strike, dan masih banyak lagi. Biasanya, pemain eSports didominasi oleh laki-laki, tetapi tidak sedikit juga wanita cantik yang menyukai olahraga elektronik ini.

Nah, sobat penggemar eSports Indonesia, kabarnya eSport akan diperkenalkan sebagai cabang olahraga baru di Asian Games. Kebetulannya lagi, Asian Games 2018 akan diselenggarakan di Indonesia dan diikuti oleh 46 negara di Asia. Merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, karena Indonesia menjadi tempat bersejarah dari diperkenalkannya eSports di ajang multi-event paling bergengsi se-Asia ini.

Berkenalan dengan Counter Strike: GO

CS: GO
Sumber: steam.com

Dalam Asian Games tahun 2018, ada beberapa cabang olahraga eSports yang rencananya dipertandingkan. Salah satunya adalah Counter Strike: GO (Global Offensive), permainan dengan mode First-Person Shooting yang dikembangkan oleh Valve Corporation dan Hidden Path Entertainment. Tentu sobat penggemar eSports Indonesia sudah tidak asing lagi dengan game tersebut, mengingat Counter Strike telah ada sejak lama dan begitu populer.

Sama seperti versi sebelumnya, game ini mengusung konsep tembak-menembak yang mengandalkan kerja sama tim. Alur ceritanya pun menggunakan sudut pandang orang pertama. Pemain dapat memilih peran sebagai Teroris atau Anti-Teroris. Mekanismenya adalah pemain diharuskan menyelesaikan misi atau mengalahkan kelompok musuh. Sebenarnya sangat sederhana dan waktu permainannya pun tidak terlalu panjang.

Adapun CS: GO terdiri dari 5 mode gameplay, antara lain: Deathmatch, Arms Race, Demolition, Casual, dan Competitive. Jika sudah mahir bermain di empat mode sebelumnya, barulah pemain sanggup menaklukkan mode Competitive. Dibutuhkan strategi, penguasaan peta, dan manajemen waktu untuk bisa mengalahkan pihak lawan. Untuk senjata, terdapat beberapa jenis baru pada versi ini, seperti Molotov dan Incendiary Grenade.

CS: GO
Sumber: youtube.com

Setelah dirilis pertama kali, Counter Strike: GO ternyata mendapat banyak respons positif dari para kritikus professional. Metacritic, website yang biasa mengkritik sebuah permainan memberikan nilai sebesar 83 dari total 100 untuk versi PC-nya. Destructoid juga memberikan respons positifnya, ia memberikan poin 95 dan berpendapat bahwa versi terbaru ini lebih baik.

Meskipun begitu, ternyata pihak pengembang sebelumnya mengeluarkan beberapa pengumuman kontroversial. Dalam pengumuman itu, mereka menyatakan akan menyertakan kelompok separatis yang memiliki simbol mirip ETA sebagai bagian dari karakternya. Namun, hal itu urung dilakukan karena Badan Pemerintah Spanyol dengan tegas melarang dan meminta pihak CS: GO untuk mencabut tokoh kelompok tersebut. Alasannya, eksposur terhadap kelompok separatis dalam game besutan mereka dianggap akan melukai perasaan korban yang sesungguhnya..

eSport di Ajang Asian Games Hanya sebagai Ekshibisi

Berhubung baru pertama kali diperkenalkan di Asian Games, eSports kali ini hanya berupa pertandingan eksibisi, bukan memperebutkan medali. Meskipun begitu, eSport tetap terhitung sebagai pertandingan resmi dan pemenang akan mendapatkan hadiah uang.

Sebagai informasi, setiap cabang olahraga yang baru pertama kali masuk di Asian Games harus menjadi ekshibisi terlebih dahulu, barulah selanjutnya dipertandingkan untuk memperebutkan medali. Kabar baiknya, pihak OCA (Olympic Council of Asia) sudah mengatakan bahwa kompetisi eSport yang memperebutkan medali bisa terealisasi di Asian Games tahun 2022.

Sampai saat ini, belum diputuskan secara resmi mengenai kandidat eSport mana saja yang akan dipertandingkan di Asian Games 2018. Namun yang pasti, sepak terjang eSports akan semakin dikenal masyarakat internasional, khususnya di wilayah Asia.

Bagaimana, sobat esports Indonesia? Tidak sabar menanti Asian Games yang tinggal beberapa bulan lagi?

Start reading Games CS GO: Kandidat eSports di Asian Games 2018

Games DotA 2: MOBA Kandidat eSport di Asian Games 2018

Game online saat ini sudah dipandang sebagai sesuatu yang lebih serius dari sekadar hiburan pelepas penat, bahkan masuk dalam kategori olahraga yang dikompetisikan. Seperti juga olahraga pada umumnya, eSport memiliki atlet-atlet yang menekuni permainan selayaknya seorang profesional. Hanya saja memang atlet eSport tidak bertanding secara fisik atau bertatap muka, melainkan beradu strategi melalui media digital. Antusiasme kalangan eSports Indonesia cukup besar, menyusul diumumkannya secara resmi bahwa eSport ditambahkan sebagai cabang olahraga baru pada  Asian Games 2018.

Dota 2
Sumber: hardcoregamer.com

Tiga cabang eSport akan berlaga di gelaran olahraga paling bergengsi dan terbesar se-Asia ini. Salah-satu di antaranya yaitu MOBA (multiplayer online battle arena), game strategi yang biasa dimainkan oleh 10-20 orang dalam 1 kali permainan. MOBA dapat dikatakan sebagai game yang paling digemari dibandingkan tipe game lainnya. DotA 2 diproyeksikan menjadi kandidat eSport dari game bertipe MOBA yang akan dipertandingkan di Asian Games.

DotA 2 adalah gamefree to play” yang sangat terkenal dan memiliki daya tarik tersendiri. Dalam DotA 2, pemain dituntut untuk piawai mengatur strategi. Valve sebagai pengembang game DotA 2 pandai memancing rasa penasaran para gamer dengan terus memberikan kebaruan baik pada mode, campaign, ataupun tokoh di dalam game tersebut.

Jika ditelisik lebih dalam, bermain DotA 2 bisa meningkatkan kemampuan berpikir dan menganalisis. Untuk memenangkan pertarungan, diperlukan analisis yang baik mengenai hero yang menjadi lawan, bagaimana skill dan gaya bertempurnya. Pemain juga harus dapat memilih hero yang tepat untuk dijadikan tim. Setiap langkah yang diambil harus diperhitungkan secara presisi. DotA 2 juga melatih pemain merespons dengan cepat,  ketika diserang dan menyerang.

Kemenangan dalam permainan DotA 2 salah satunya ditentukan oleh kerja sama tim. Setiap pemain bertanggung jawab mempertahankan tower. Seberapa hebatnya pun pemain, jika bermain solo maka peluang untuk memenangkan permainan bisa dibilang sangat kecil.

Sekilas, game DotA 2 hanya terlihat sebagai permainan pertempuran yang seru dan menghibur. Bagi atlet eSport, game ini benar-benar menstimulasi kinerja otak kiri dan otak kanan, karena dituntut untuk berpikir dan bertindak secara cepat dan tepat. Kestabilan emosi juga harus tetap terjaga selama permainan berlangsung.

Beberapa sumber menyebutkan, sebagian besar pemain mengakui bahwa DotA 2 lebih sulit untuk dikuasai dibandingkan game lainnya. DotA 2 sangat cocok untuk orang-orang yang menyukai tantangan. Dilihat dari jumlah rata-rata pemain aktif di tiap bulannya, pemain DotA 2 memang relatif lebih sedikit.

Dota 2
Sumber: venturebeat.com

Meskipun DotA 2 memiliki banyak penggemar di Indonesia, jumlah atlet eSport dengan kualifikasi yang mumpuni masih jauh dibandingkan negara Asia lainnya seperti Korea Selatan dan China. Tim dari negara lain memang dilatih untuk siap bertarung dan keluar sebagai pemenang, sedangkan pelatihan tim Indonesia masih sangat tertinggal. Kelihatannya agak berat bagi tim Indonesia bisa menang dan mendapat medali.

Beruntung cabang eSport di perhelatan Asian Games ke-18 nanti masih dipertandingkan sebatas ekshibisi. Tim eSports Indonesia masih punya banyak waktu untuk mempersiapkan diri hingga tahun 2022, ketika cabang eSport sudah mulai dipertandingkan untuk memperebutkan medali. Pemerintah perlu lebih menyosialisasikan eSport, dan secara rutin mengadakan kompetisi-kompetisi agar kemampuan mereka benar-benar terasah dan siap bersaing dengan atlet-atlet dari negara lain.

Bila benar-benar ditekuni secara serius dan profesional, selain dapat mengharumkan nama negara lewat ajang kompetisi eSport tingkat regional dan internasional, DotA 2 juga bisa dijadikan sumber penghasilan yang tidak main-main jumlahnya. Pada kejuaraan DotA 2 di tahun 2017 lalu, total hadiahnya mencapai 328 miliar rupiah.

Inilah Dota 2 Best Moments The International 7

Start reading Games DotA 2: MOBA Kandidat eSport di Asian Games 2018

Games LoL: MOBA Kandidat eSports di Asian Games 2018

Tinggal beberapa bulan lagi menuju penyelenggaraan Asian Games ke-18 di Jakarta dan Palembang. Ada yang baru di gelaran Asian Games kali ini, yaitu dimasukkannya eSport sebagai cabang olahraga yang turut dipertandingkan, walaupun masih sebatas uji coba atau perkenalan. Masuknya eSport sebagai cabang olahraga baru menjadi kabar yang sangat menggembirakan bagi para pencinta game online di Asia, tidak terkecuali kalangan eSports Indonesia.

League of Legend vs DotA 2

League of Legends
Sumber: tacticalgaming.net

DotA 2 dan League of Legend (LoL) adalah game bertipe Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) yang paling terkenal dan memiliki banyak penggemar. Keduanya diproyeksikan untuk turut dipertandingkan sebagai cabang eSport tipe MOBA. Walaupun dari segi permainan hampir sama, tetapi tidak semua karakter di LoL dapat dimainkan. Jika ingin memainkan semua karakter, pemain harus membeli karakter yang diinginkannya. Dengan begitu, bisa menjaga fokus pemain dalam menguasai satu persatu champion, atau yang dalam DotA 2 dinamakan hero.

LoL yang dirilis pada 2009 sempat merajai game tipe MOBA sebelum DotA 2 hadir. Banyak sumber menyatakan bahwa mekanisme game LoL lebih mudah dimainkan dibandingkan DotA 2, aturannya juga tidak rumit. Para pemain pemula tidak memerlukan waktu yang terlalu lama untuk beradaptasi dengan game LoL. Sampai hari ini, jumlah pemain aktif LoL memang masih jauh lebih banyak daripada DotA 2, yaitu mencapai 100 juta pemain setiap bulannya.

Mekanisme permainan yang lebih mudah dan peraturan yang tidak rumit membuat game LoL memiliki durasi permainan yang lebih pendek daripada DotA 2. Para pemainnya juga lebih santai dengan emosi yang relatif lebih stabil. Jika untuk dipertandingkan di ajang sekelas Asian Games, mungkin game DotA 2 akan lebih seru dibandingkan LoL.

Debut eSport di Asian Games

Walau baru dipertandingkan sebatas demonstrasi, pertandingan eSport pada Asian Games Agustus 2018 nanti tetap merupakan kompetisi resmi. Mimpi para atlet eSports Indonesia untuk mendapatkan medali sebagai tolak ukur kesuksesan seorang gamer, baru bisa diwujudkan pada Asian Games 2022 di China. Olympic Council of Asia secara resmi mengumumkan bahwa kompetisi eSport akan menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan di gelaran Asian Games berikutnya, atau 4 tahun yang akan datang.

League of Legends
Sumber: pressfire.no

Hadiah yang diperebutkan pada ajang Asian Games ini memang tidak sebesar yang ditawarkan turnamen-turnamen game ternama, yang nilainya bisa mencapai lebih dari 300 miliar rupiah. Namun, kebanggaan mendapatkan medali sebagai persembahan bagi negara diharapkan dapat memotivasi para atlet eSport di Asia untuk mengerahkan kemampuan terbaik mereka, mengingat Asian Games merupakan kompetisi olahraga terbesar kedua setelah Olimpiade.

Kesiapan Tim eSport Indonesia

Tampaknya Indonesia belum memperlihatkan performa yang lebih bersinar dari tim negara lain, atlet eSports Indonesia memang masih dalam tahap berkembang. Tim eSport Indonesia butuh “digembleng” lewat berbagai kompetisi agar kemampuannya dan mentalnya lebih terasah.

Pemerintah Indonesia sendiri berusaha mengangkat popularitas eSport dengan mengadakan kompetisi-kompetisi eSport. Pada dasarnya, olahraga elektronik ini memiliki sifat yang hampir sama dengan olahraga mental dan pikiran seperti catur dan bridge. Sama-sama bersifat kompetitif dan menuntut pemainnya untuk memiliki teknik, kemampuan, dan kemahiran tertentu.

Jika di ajang Asian Games tahun ini Indonesia masih belum bisa menunjukkan performa yang maksimal, masih ada waktu untuk mempersiapkan tim eSport yang benar-benar tangguh untuk berlaga di Asian Games berikutnya.

Start reading Games LoL: MOBA Kandidat eSports di Asian Games 2018

Games Starcraft 2: Kandidat eSports di Asian Games 2018

Sebagai tuan rumah pesta olahraga multi-event terbesar se-Asia, Indonesia seharusnya berbangga diri. Pasalnya, Indonesia juga akan menjadi saksi sejarah tempat eSports pertama kali diperkenalkan sebagai olahraga resmi di Asian Games.

Penggemar eSports Indonesia tentu sangat senang dengan adanya berita ini, karena berkesempatan menonton langsung pertandingan resminya yang mempertemukan berbagai pemain profesional se-Asia. Nah, sebelum Asian Games dimulai, ada baiknya Anda berkenalan terlebih dahulu dengan beberapa kandidat eSports yang akan dipertandingkan. Di antaranya adalah Dota 2, FIFA 2017, dan Starcraft 2. Game terakhir inilah yang akan kita bahas, sebagai berikut:

Berkenalan dengan Starcraft 2

Starcraft 2
Sumber: extremetech

Starcraft 2 adalah salah satu permainan strategi waktu nyata (real time strategy) paling populer keluaran Blizzard Entertainment, bisa dimainkan oleh pemain biasa atau profesional.  Permainan ini pertama kali diperkenalkan pada publik di tanggal 19 Mei 2007 di Seoul, Korea Selatan.

Starcraft 2 mengisahkan tentang tiga faksi, yaitu: Terran (ras manusia), Protoss (ras alien berteknologi tinggi), dan Zerg (ras alien purba). Meskipun ketiga ras saling bertikai, tetapi fokusnya pada konflik yang terjadi di ras Terran. Konfliknya sendiri mengenai Mengsk yang ingin menjatuhkan pemerintahan yang korup, tetapi dengan cara yang keji, yakni memprovokasi kaum Zerg untuk membantai seluruh penduduk di Planet Tarsonis. Pun mengorbankan perwiranya, Sarah Kerrigan. Singkat cerita, Jim Raynor membelot dari Mengsk dan memimpin gerakan perlawanan.

Selama bermain Starcraft 2, Anda akan dilatih mengasah kreativitas dan cara berpikir dalam menyelesaikan masalah. Hal ini terlihat dari penyelesaian setiap misi yang mengusung konsep berbeda-beda, masing-masing memiliki tantangan tersendiri. Uniknya, Anda tidak akan langsung disuguhi semua unit tempur pada awal misi, melainkan diperkenalkan secara bertahap. Layaknya Anda sedang melakukan training sebelum berlanjut ke pertempuran yang lebih kompleks.

Seperti real time strategy pada umumnya, pemain Starcraft butuh banyak latihan untuk sampai ke tahap pemain pro. Meski tergolong tidak gampang, tetapi faktanya permainan ini merupakan salah satu yang disukai banyak orang. Bahkan, di versi terbaru, yaitu Starcraft 2, banyak pemain baru mulai bermunculan.

Bukan sesuatu yang mengherankan, karena versi terbaru ini menawarkan sejumlah elemen yang menarik. Baik dari jalan cerita, tatanan grafis dan suara, hingga sistem permainan yang lebih kompleks dibandingkan versi terdahulu.

Namun, yang cukup disayangkan adalah, tidak tersedia permainan multiplayer melalui Local Area Network (LAN). Tidak diketahui secara pasti kenapa Blizzard menghilangkan fitur yang sebelumnya paling digandrungi tersebut. Meski demikian, Wings of Liberty tetap menarik dimainkan baik secara online atau offline.

eSport sebagai Ekshibisi di Asian Games 2018

Sebenarnya, eSports yang akan dipertandingkan di Asian Games 2018 hanya sebagai ekshibisi atau pertandingan persahabatan saja. Namun, kemungkinan besar eSports akan kembali dihadirkan di Asian Games 2022 sebagai cabang olahraga resmi yang memperebutkan medali.

Sesuai peraturan, memang sebelum dimasukkan sebagai cabang olahraga resmi di Asian Games, olahraga tersebut harus diperkenalkan dalam pertandingan ekshibisi. Demonstrasi ini paling tidak dilakukan sekali, atau bahkan dua kali.

Meskipun eSport Asian Games 2018 di Indonesia hanya digelar sebagai pertandingan “penggembira” saja, tetapi kita tetap patut berbangga. Lagi pula walaupun tanpa medali, pertandingan eSports tersebut tetap kompetitif karena pemenang akan mendapatkan hadiah uang tunai.

Bagaimana, penggemar eSports Indonesia? Sudah siap menyambut Asian Games dalam beberapa bulan lagi dan melihat gamer andalanmu bertanding?

Start reading Games Starcraft 2: Kandidat eSports di Asian Games 2018

Games FIFA 2017, Salah Satu Kandidat eSport di Asian Games 2018

Asian Games 2018 akan digelar di Indonesia, tepatnya di Jakarta dan Palembang. Kabar baiknya, sebagaimana yang disampaikan oleh pihak Olimpic Council Asia, eSport akan menjadi salah satu cabang olahraga baru yang dipertandingkan. Tentu berita ini disambut gembira oleh para pencinta eSport, terutama kalangan eSports Indonesia.

Hal yang membuat penasaran adalah games apa saja yang akan dikompetisikan. Dari sekian banyak game yang masuk dalam kategori eSport, tampaknya tidak mungkin semuanya akan dipertandingkan. Pihak penyelenggara Asian Games pun tentu harus memilih game apa saja yang memang benar-benar layak.

Berdasarkan informasi yang dirangkum dari berbagai sumber berita, tipe eSport yang akan dimainkan adalah MOBO dan RTS. Untuk detail nama-nama game yang dipilih sebenarnya masih belum pasti. Namun, ada beberapa nama yang memiliki peluang besar, antara lain DOTA 2, League of Legends (LoL), dan StarCraft2. Sementara untuk genre eSport sepak bola sendiri, kandidat terkuat adalah FIFA 2017.

Berbagai Keunggulan FIFA 2017

Tidak bisa dimungkiri, FIFA 2017 sudah memiliki tempat di hati para pemain eSport. Meski merupakan pendatang baru dalam eSport bergenre sepak bola, tetapi kepopulerannya melejit cepat dan melewati pesaingnya seperti PES.

FIFA 2017
Sumber: youtube.com

Terdapat beberapa keunggulan yang dimiliki game besutan EA Sport ini, khususnya pada versi 2017. Pertama, dari segi grafis yang didukung oleh Frostbite Engine, menjadikan setiap elemen gambarnya lebih realistis. Hal tersebut berdampak pula pada kontrol pemain yang lebih responsif, bahkan terasa perbedaan antara gerakan dan fleksibilitas pemain bola yang berpostur ringan maupun kekar. Kedua, dari segi gameplay; tendangan, umpan lambung, dan shoot di sudut-sudut sempit jauh lebih akurat dibandingkan versi tahun-tahun lalu.

Ada lagi yang lebih penting dan bisa jadi membuat game ini masuk kandidat kuat di Asian Games 2018. Apalagi kalau bukan tentang lisensi pemain sepak bola yang dimilikinya; artinya, pengembang game FIFA berhak menampilkan liga-liga dari seluruh dunia, termasuk pemain-pemain sepak bola yang bersangkutan sebagai karakter, Marco Reus misalnya.

FIFA 2017
Sumber: playstation.com

EA Sport jelas mendapatkan lisensi langsung dari Asosiasi Federasi Sepakbola Internasional (FIFA). Kerja sama ini sudah terjalin sejak tahun 1993, hingga kini diperpanjang sampai tahun 2020. Kemitraan dengan FIFA inilah yang membuat para gamers khususnya pencinta sepak bola, menaruh rasa hormat dan percaya. Melihat dari latar belakangnya, kemungkinan FIFA 2017 akan mendapat dukungan lebih untuk melenggang di Asian Games 2018.

Peluang Atlet eSport Indonesia di Asian Games

Indonesia sebagai negara tuan rumah harus segera menjaring pemain-pemain eSport FIFA 2017 yang memang bisa diandalkan. Bukan hanya kemampuan bermain yang patut diperhatikan, tetapi juga mental bertarung melawan pesaing dari berbagai negara. Apabila pemerintah serius mengembangkan para atlet eSport, tidak menutup kemungkinan bisa menjadi peluang baru untuk menaikkan peringkat Indonesia di kancah Asian Games.

Bagi Anda para pemain FIFA 2017 yang sudah mahir, persiapkanlah diri dengan melakukan latihan sebaik mungkin. Lebih bagus lagi jika sebelumnya Anda memiliki pengalaman dalam mengikuti turnamen-turnamen eSport, khususnya yang mempertandingkan FIFA 2017.

Jika benar-benar serius menekuni permainan ini, siapa tahu Anda masuk daftar pencarian atlet untuk mewakili Indonesia sebagai pemain FIFA 2017 di Asian Games 2018 mendatang. Sebagai tuan rumah, tunjukkan bahwa pemain eSports Indonesia pun berkualitas dan sanggup meladeni pemain eSport dari negara lain.

Start reading Games FIFA 2017, Salah Satu Kandidat eSport di Asian Games 2018

3 Negara Pencetus Tim-Tim eSports Terbaik

Game atau permainan di komputer yang kini dikenal juga dengan nama eSports, dahulu hanya dianggap sebagai hiburan bagi kebanyakan orang. Namun saat ini, eSports telah berkembang dengan adanya beragam kompetisi yang juga menghasilkan uang. Oleh karena itu, tidak heran jika kepopuleran eSport tak hanya melanda dunia. Kini Indonesia eSports juga terus berkembang lantaran permainan yang ditawarkan tidak hanya menyenangkan namun juga bisa menghasilkan uang hingga ratusan juta dolar.

Saat ini ada tiga negara di dunia yang sudah mendulang keuntungan paling banyak dari eSports . Ketiga negara ini memiliki tim-tim eSports yang sudah mendapatkan uang hingga miliaran rupiah. Negara mana sajakah itu? Simak ulasan berikut.

1. China

Negara yang memiliki julukan Tirai Bambu ini merupakan negara yang memiliki penghasilan terbesar dari eSports . Bahkan nilai rupiah yang sudah diperoleh tim-tim eSports ini mencapai 734 miliar rupiah atau sekitar 55 juta US Dolar.

Dota 2 merupakan game yang menyumbangkan kemenangan dengan nilai uang tertinggi bagi negara China. Hao, Xiao8, FY, dan Fenrir adalah nama-nama terkenal yang berasal dari negara ini. Mereka selalu tampil dengan gemilang di level atas Dota 2 yang tentunya terus mendulang keunggulan China di bidang eSports.

Nilai terbaik yang didapatkan China juga tidak luput dari prestasi Wings Gaming yang sukses membawa pulang uang senilai sembilan juta dolar pada TI 6. Lalu Clearlove, Uzi, dan Koro1 juga tak mau ketinggalan. Mereka sukses juga memboyong uang dari dunia League Of Legends yang semakin memperkuat posisi China di kancah eSports.

Menurut prediksi, negara ini akan menjadi salah satu negara yang kuat di dunia eSports. Hal ini dikarenakan animo masyarakat terhadap eSports semakin besar dan juga munculnya organisasi besar yang merekrut pemain eSports berbakat dari berbagai jenis permainan.

2. Amerika Serikat

Dalam dunia eSports, rivalitas antara West dan East memang dikenal cukup sengit. Bahkan di kalangan Indonesia eSports, para gamers pasti tahu mengenai perebutan kekuasaan antara tim dari Amerika versus tim dari negara China.

Untuk saat ini Amerika Serikat masih berada satu tingkat di bawah China dengan total pendapatan sekitar 54 juta US Dolar atau senilai 720 miliar rupiah. Jika memperhatikan nilai uang yang didapatkan kedua negara rival ini, jelas tampak bahwa kedua negara memiliki tim eSports yang hampir sama kuatnya.

Meski berada di urutan kedua, tetapi Amerika Serikat merupakan negara yang memiliki pemain terbanyak dalam dunia eSports. Ada sekitar 8.744 pemain yang berasal dari negara ini. Selain jumlah pemain yang banyak, Negeri Paman Sam ini punya berbagai turnamen. Aneka eSports seperti Call of Duty, HALO, Smite, Street Fighter, Mortal Kombat, Quake, hingga game mobile seperti Clash Royale memiliki turnamen masing-masing.

Untuk saat ini, penyumbang terbesar pendapatan Amerika Serikat yaitu dikenal dengan nama Trio Evil Geniuses yang terdiri dari PPD, Universe, dan Fear. Ketiganya sudah punya pendapatan sebanyak delapan juta dolar.

3. Korea Selatan

Negara ketiga yang berkuasa di dunia eSports dengan tim terbaik yaitu Korea Selatan. Negara yang juga dikenal dunia melalui Kpop ini sudah mengantongi uang sebanyak 640 miliar rupiah atau senilai 48 juta US Dolar. Meski memiliki pendapatan yang banyak, namun berbeda dari kedua negara lainnya, pendapatan Korea Selatan tidak didominasi dari Dota 2.

Negara Ginseng ini justru dikenal memiliki kekuasaan tinggi di game starcraft 2 dan League of Legends. Lim Yo Hwan, Faker, dan Hong Jin Ho adalah nama para gamers legendaris yang berasal dari negara ini. Ketiganya kini bahkan cukup terkenal di Korea Selatan seperti artis K-pop.

Demikian tiga negara yang memiliki tim eSports terbaik. Lalu apakah Indonesia eSports bisa menjadi salah satu yang terbaik kelak? Tentu ini harus perjuangkan oleh para pemain eSports Tanah Air yang akan bertarung di kancah Internasional.

Start reading 3 Negara Pencetus Tim-Tim eSports Terbaik

Benarkah eSport akan Menjadi Salah Satu Cabang Olahraga di Asian Games 2018?

Dunia olahraga kini sudah mulai bertumpu pada teknologi terkini. Terbukti dari kemunculan eSport, olahraga elektronik yang utamanya memanfaatkan komputer ataupun smartphone untuk memainkannya. Di Indonesia, eSport sudah masuk cukup lama. Bahkan demi menaungi pencinta eSports Indonesia, sudah ada lembaga resmi yang mendukungnya, yaitu IeSPA ( Indonesia eSport Association ).

Selama ini,  eSport masih dipandang sebagai hobi semata. Pasalnya, berlama-lama di hadapan gawai ataupun komputer hanya untuk bermain game kerap dinilai sebagai aktivitas yang kurang produktif dan hanya membuang-buang waktu.

Fakta berbicara sebaliknya; eSport semakin ditekuni secara serius bahkan menawarkan peluang kemenangan dan pundi-pundi uang, terbukti dari adanya turnamen-turnamen eSport di berbagai negara termasuk Indonesia. Meski penyelenggaranya masih terbatas oleh pihak swasta saja, tetapi tetap membuktikan banyaknya peminat eSport di seluruh dunia. Adapun game yang kerap dipertandingkan, seperti . Hon, LOL, Counter Strike Online, Mobile Legend, dan FIFA 2017.

Esports Competition
Sumber: blksport.com

Olimpic Council Asia Pastikan eSport akan Digelar di Asian Games 2018

Kabar tentang eSport yang akan dijadikan cabang baru pada ajang Asian Games 2018, menjadi angin segar bagi para gamers. Bukan isapan jempol belaka, kabar tersebut dibenarkan oleh pihak Olimpic Council Asia (OCA). Keberhasilan membawa eSport ke Asian Games 2018 juga tidak lepas dari dukungan E-commerce raksasa Alibaba.

Adapun pencinta eSport Indonesia patut bersukacita, karena Asian Games 2018 akan dihelat di Jakarta dan Palembang. Tentu para atlet eSports Indonesia tidak ingin ketinggalan untuk berpartisipasi, bukan.

Tipe Game yang Dipertandingkan

Pada Asian Games nanti, rencananya ada dua tipe game yang dipertandingkan. Pertama, MOBA, tipe game multiplayer yang mengusung pertempuran dan memiliki karakter ‘hero’; contohnya DOTA 2 dan League of Legends (Lol). Kedua, RTS, tipe game yang sarat dengan permainan taktik dan strategi; contohnya adalah Starcraft 2. Satu lagi game pilihan yang turut dipertandingkan, yaitu FIFA 2017—game sepak bola terbaik yang mengunakan Frosbite Engine, sehingga unggul dari segi grafis.

eSport Hanya Sebagai Cabang Ekshibisi

Pada ajang Asian Games 2018, eSport hanya sebagai cabang ekshibisi atau hiburan sekaligus perkenalan. Dalam artian, kompetisi eSport tersebut bukan untuk meraih medali. Namun, jangan berkecil hati. Sebagaimana prosedur yang sudah ada, jenis olahraga baru memang harus didemonstrasikan terlebih dahulu sebelum akhirnya menjadi olahraga resmi yang memperebutkan medali. Kabar gembiranya, eSport akan menjadi cabang olahraga resmi yang dipertandingkan di Asian Games 2022 kelak.

Masih sebagai olahraga demonstrasi, sebelumnya,eSport juga pernah dipertandingkan pada 5th Asian Indoor and Martial Art Games ( 5th AIMAG ) yang berlangsung di Ashgabat Turkmenistan. Pun pada AIMAG 2013 yang digelar di Incheon.

Siapkah Indonesia sebagai Tuan Rumah Asian Games Khususnya di Cabang eSport?

Permasalahannya, apakah Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games kali ini sudah siap dengan adanya rencana cabang baru yaitu eSport? Selayaknya pihak Indonesia mempersiapkan fasilitas dan insfrastruktur, serta menjaring sejak dini para atlet eSport. Toh, selama ini banyak anak muda yang suka bahkan fanatik memainkan game. Rasanya tidak sulit jika pemerintah menjaring para gamers berbakat.

Semoga penyelenggaraan eSport pada Asian Games 2018 di Indonesia, dapat terealisasi dengan baik. Pun semakin memicu pemerintah untuk serius mencetak bibit-bibit atlet eSport profesional. Nah, bagi para pemain eSports Indonesia terutama yang sudah berpengalaman dalam mengikuti berbagai turnamen, tunggu saja kabar dan informasi selanjutnya ya!

Start reading Benarkah eSport akan Menjadi Salah Satu Cabang Olahraga di Asian Games 2018?