Month: March 2018

Ini Dia 5 Reporter eSports Paling Cantik yang akan Membuat Anda Meleleh

Di balik perhelatan eSports yang biasanya didominasi oleh kaum lelaki, ada banyak reporter cantik yang siap melaporkan jalannya pertandingan pada pemirsa di layar kaca. Selain cantik dan muda, wanita-wanita ini juga memiliki bakat dan prestasi yang akan membuat Anda terkagum-kagum. Alhasil, pesona dan talenta reporter-reporter cantik tersebut membuat pelaksanaan eSport semakin berwarna.

Siapa sajakah wanita-wanita itu? Mungkin penggemar eSports Indonesia sudah tidak asing dengan beberapa di antaranya:

1. Sjokz

Sjokz
Sumber: redbull.com

Dialah Eefje “Sjokz” Depoorte, seorang wanita cantik kelahiran 16 Juni 1987. Wanita ini sudah tidak asing lagi bagi para atlet eSport, terutama bagi pemain League of Legends. Terang saja, Sjokz merupakan seorang reporter tetap pada event European League of Legends Championship Series (LCS EU). Kepiawaiannya dalam mereportasekan keadaan di arena dan parasnya yang menawan, membuat kemunculannya selalu ditunggu-tunggu oleh para penonton.

Selain andal sebagai reporter dengan gelar master di bidang jurnalistik dan sejarah, ternyata ia juga pernah bermain Unreal Tournament dengan sangat kompetitif. Tidak hanya aktif sebagai reporter, Sjokz juga seorang dosen di Ghent University.

2. Sheever

Sheever
Sumber: gawker-media.com

Jorien “Sheever” van der Heidjen mungkin sangat tidak asing bagi para pencinta Dota 2. Intensitas penampilannya di setiap event game besutan Valve Corporation ini, membuatnya dijuluki Ratu Dota 2.

Wanita kelahiran Belanda, 26 April 1985 tersebut memulai kariernya sebagai streamer di salah satu channel esports. Memulai dari sana, bakatnya makin terasah dan menjadikannya semakin populer di kalangan penggemar Dota 2.

3. Tonya

Tonya
Sumber: cybbet-static

Para penggemar eSports indonesia, kali ini kita akan berkenalan dengan seorang wanita cantik berkebangsaan Ukraina, “Tonya” Predko. Cukup banyak deretan event yang pernah menggaetnya sebagai host. Beberapa di antaranya adalah Esports Championship Series Season 2 dan 4, ELEAGUE Major: Boston 2018, ESG Tour Mykonos 2017, dan masih banyak lagi. Sebelum tampil sebagai host, Tonya aktif dalam scene Counter Strike: Global Offensive saat ia bergabung bersama StarLadder.

4. Pansy

Pansy
Sumber: outermode.com

Berikutnya, ada si cantik Laurent “Pansy” Scoot, seorang reporter berbakat dari game CS:GO. Sebelum menjadi reporter sekaligus caster kondang, ia memulai kariernya sebagai salah satu pro player di game Call of Duty 4.

Kariernya mulai diakui dunia setelah bergabung dengan ESL yang merupakan salah satu event organizer eSports besar di Eropa. Wanita kelahiran Inggris—26 Juli 1990 ini pun mulai aktif sebagai reporter, caster, dan host di berbagai event. Hingga kini, ia sudah menjadi salah satu reporter cantik yang tidak diragukan lagi kemampuannya.

5. Seltzerplease

Seltzer
Sumber: twitter.com

Di antara yang lainnya, mungkin wanita cantik satu ini paling jarang didengar namanya di kalangan penggemar eSports Indonesia. Dia adalah Rachel “SeltzerPlease” Quirico, wanita yang memulai kariernya sebagai gamer ketika memainkan Pokemon. Sejak saat itu, ia mulai aktif mengikuti berbagai turnamen Pokemon. Seiring dengan berjalannya waktu dan perkenalannya dengan berbagai game, kariernya mulai menanjak.

Setelah bergabung dengan Cyber Sports Networking, SeltzerPlease semakin menunjukkan kemampuannya. Ia memiliki banyak kesempatan untuk tampil menjadi talent di berbagai turnamen besar. Saat ini, SeltzerPlease masih aktif sebagai host dan analis pada Overwatch League.

Selain kelima wanita cantik yang sudah dibahas,  masih banyak wanita cantik lainnya yang menghiasi eSports, baik sebagai reporter maupun pemain. Bagaimana, sobat eSports Indonesia? Siapa di antara mereka yang menurut Anda paling cantik dan membuat Anda meleleh?

Start reading Ini Dia 5 Reporter eSports Paling Cantik yang akan Membuat Anda Meleleh

Games CS GO: Kandidat eSports di Asian Games 2018

Bagi yang belum tahu, eSports adalah kompetisi permainan video yang mempertemukan para gamers profesional. Permainan ini banyak jenisnya, di antaranya adalah League of Legends, Dota 2, Counter Strike, dan masih banyak lagi. Biasanya, pemain eSports didominasi oleh laki-laki, tetapi tidak sedikit juga wanita cantik yang menyukai olahraga elektronik ini.

Nah, sobat penggemar eSports Indonesia, kabarnya eSport akan diperkenalkan sebagai cabang olahraga baru di Asian Games. Kebetulannya lagi, Asian Games 2018 akan diselenggarakan di Indonesia dan diikuti oleh 46 negara di Asia. Merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, karena Indonesia menjadi tempat bersejarah dari diperkenalkannya eSports di ajang multi-event paling bergengsi se-Asia ini.

Berkenalan dengan Counter Strike: GO

CS: GO
Sumber: steam.com

Dalam Asian Games tahun 2018, ada beberapa cabang olahraga eSports yang rencananya dipertandingkan. Salah satunya adalah Counter Strike: GO (Global Offensive), permainan dengan mode First-Person Shooting yang dikembangkan oleh Valve Corporation dan Hidden Path Entertainment. Tentu sobat penggemar eSports Indonesia sudah tidak asing lagi dengan game tersebut, mengingat Counter Strike telah ada sejak lama dan begitu populer.

Sama seperti versi sebelumnya, game ini mengusung konsep tembak-menembak yang mengandalkan kerja sama tim. Alur ceritanya pun menggunakan sudut pandang orang pertama. Pemain dapat memilih peran sebagai Teroris atau Anti-Teroris. Mekanismenya adalah pemain diharuskan menyelesaikan misi atau mengalahkan kelompok musuh. Sebenarnya sangat sederhana dan waktu permainannya pun tidak terlalu panjang.

Adapun CS: GO terdiri dari 5 mode gameplay, antara lain: Deathmatch, Arms Race, Demolition, Casual, dan Competitive. Jika sudah mahir bermain di empat mode sebelumnya, barulah pemain sanggup menaklukkan mode Competitive. Dibutuhkan strategi, penguasaan peta, dan manajemen waktu untuk bisa mengalahkan pihak lawan. Untuk senjata, terdapat beberapa jenis baru pada versi ini, seperti Molotov dan Incendiary Grenade.

CS: GO
Sumber: youtube.com

Setelah dirilis pertama kali, Counter Strike: GO ternyata mendapat banyak respons positif dari para kritikus professional. Metacritic, website yang biasa mengkritik sebuah permainan memberikan nilai sebesar 83 dari total 100 untuk versi PC-nya. Destructoid juga memberikan respons positifnya, ia memberikan poin 95 dan berpendapat bahwa versi terbaru ini lebih baik.

Meskipun begitu, ternyata pihak pengembang sebelumnya mengeluarkan beberapa pengumuman kontroversial. Dalam pengumuman itu, mereka menyatakan akan menyertakan kelompok separatis yang memiliki simbol mirip ETA sebagai bagian dari karakternya. Namun, hal itu urung dilakukan karena Badan Pemerintah Spanyol dengan tegas melarang dan meminta pihak CS: GO untuk mencabut tokoh kelompok tersebut. Alasannya, eksposur terhadap kelompok separatis dalam game besutan mereka dianggap akan melukai perasaan korban yang sesungguhnya..

eSport di Ajang Asian Games Hanya sebagai Ekshibisi

Berhubung baru pertama kali diperkenalkan di Asian Games, eSports kali ini hanya berupa pertandingan eksibisi, bukan memperebutkan medali. Meskipun begitu, eSport tetap terhitung sebagai pertandingan resmi dan pemenang akan mendapatkan hadiah uang.

Sebagai informasi, setiap cabang olahraga yang baru pertama kali masuk di Asian Games harus menjadi ekshibisi terlebih dahulu, barulah selanjutnya dipertandingkan untuk memperebutkan medali. Kabar baiknya, pihak OCA (Olympic Council of Asia) sudah mengatakan bahwa kompetisi eSport yang memperebutkan medali bisa terealisasi di Asian Games tahun 2022.

Sampai saat ini, belum diputuskan secara resmi mengenai kandidat eSport mana saja yang akan dipertandingkan di Asian Games 2018. Namun yang pasti, sepak terjang eSports akan semakin dikenal masyarakat internasional, khususnya di wilayah Asia.

Bagaimana, sobat esports Indonesia? Tidak sabar menanti Asian Games yang tinggal beberapa bulan lagi?

Start reading Games CS GO: Kandidat eSports di Asian Games 2018

Games DotA 2: MOBA Kandidat eSport di Asian Games 2018

Game online saat ini sudah dipandang sebagai sesuatu yang lebih serius dari sekadar hiburan pelepas penat, bahkan masuk dalam kategori olahraga yang dikompetisikan. Seperti juga olahraga pada umumnya, eSport memiliki atlet-atlet yang menekuni permainan selayaknya seorang profesional. Hanya saja memang atlet eSport tidak bertanding secara fisik atau bertatap muka, melainkan beradu strategi melalui media digital. Antusiasme kalangan eSports Indonesia cukup besar, menyusul diumumkannya secara resmi bahwa eSport ditambahkan sebagai cabang olahraga baru pada  Asian Games 2018.

Dota 2
Sumber: hardcoregamer.com

Tiga cabang eSport akan berlaga di gelaran olahraga paling bergengsi dan terbesar se-Asia ini. Salah-satu di antaranya yaitu MOBA (multiplayer online battle arena), game strategi yang biasa dimainkan oleh 10-20 orang dalam 1 kali permainan. MOBA dapat dikatakan sebagai game yang paling digemari dibandingkan tipe game lainnya. DotA 2 diproyeksikan menjadi kandidat eSport dari game bertipe MOBA yang akan dipertandingkan di Asian Games.

DotA 2 adalah gamefree to play” yang sangat terkenal dan memiliki daya tarik tersendiri. Dalam DotA 2, pemain dituntut untuk piawai mengatur strategi. Valve sebagai pengembang game DotA 2 pandai memancing rasa penasaran para gamer dengan terus memberikan kebaruan baik pada mode, campaign, ataupun tokoh di dalam game tersebut.

Jika ditelisik lebih dalam, bermain DotA 2 bisa meningkatkan kemampuan berpikir dan menganalisis. Untuk memenangkan pertarungan, diperlukan analisis yang baik mengenai hero yang menjadi lawan, bagaimana skill dan gaya bertempurnya. Pemain juga harus dapat memilih hero yang tepat untuk dijadikan tim. Setiap langkah yang diambil harus diperhitungkan secara presisi. DotA 2 juga melatih pemain merespons dengan cepat,  ketika diserang dan menyerang.

Kemenangan dalam permainan DotA 2 salah satunya ditentukan oleh kerja sama tim. Setiap pemain bertanggung jawab mempertahankan tower. Seberapa hebatnya pun pemain, jika bermain solo maka peluang untuk memenangkan permainan bisa dibilang sangat kecil.

Sekilas, game DotA 2 hanya terlihat sebagai permainan pertempuran yang seru dan menghibur. Bagi atlet eSport, game ini benar-benar menstimulasi kinerja otak kiri dan otak kanan, karena dituntut untuk berpikir dan bertindak secara cepat dan tepat. Kestabilan emosi juga harus tetap terjaga selama permainan berlangsung.

Beberapa sumber menyebutkan, sebagian besar pemain mengakui bahwa DotA 2 lebih sulit untuk dikuasai dibandingkan game lainnya. DotA 2 sangat cocok untuk orang-orang yang menyukai tantangan. Dilihat dari jumlah rata-rata pemain aktif di tiap bulannya, pemain DotA 2 memang relatif lebih sedikit.

Dota 2
Sumber: venturebeat.com

Meskipun DotA 2 memiliki banyak penggemar di Indonesia, jumlah atlet eSport dengan kualifikasi yang mumpuni masih jauh dibandingkan negara Asia lainnya seperti Korea Selatan dan China. Tim dari negara lain memang dilatih untuk siap bertarung dan keluar sebagai pemenang, sedangkan pelatihan tim Indonesia masih sangat tertinggal. Kelihatannya agak berat bagi tim Indonesia bisa menang dan mendapat medali.

Beruntung cabang eSport di perhelatan Asian Games ke-18 nanti masih dipertandingkan sebatas ekshibisi. Tim eSports Indonesia masih punya banyak waktu untuk mempersiapkan diri hingga tahun 2022, ketika cabang eSport sudah mulai dipertandingkan untuk memperebutkan medali. Pemerintah perlu lebih menyosialisasikan eSport, dan secara rutin mengadakan kompetisi-kompetisi agar kemampuan mereka benar-benar terasah dan siap bersaing dengan atlet-atlet dari negara lain.

Bila benar-benar ditekuni secara serius dan profesional, selain dapat mengharumkan nama negara lewat ajang kompetisi eSport tingkat regional dan internasional, DotA 2 juga bisa dijadikan sumber penghasilan yang tidak main-main jumlahnya. Pada kejuaraan DotA 2 di tahun 2017 lalu, total hadiahnya mencapai 328 miliar rupiah.

Inilah Dota 2 Best Moments The International 7

Start reading Games DotA 2: MOBA Kandidat eSport di Asian Games 2018